Penguatan Pemahaman GTK Terhadap Hukuman Fisik, Perundungan, Rokok, Miras & Narkoba

Jumat, 27 September 2024

Pada Jumat siang yang cerah, dengan semangat Bapak-Ibu guru SMPN 2 mengikuti In House Training di aula sekolah dengan tema “Penguatan Pemahaman GTK terhadap Hukuman Fisik, Perundungan, Penggunaan Rokok, Miras, dan Narkoba.”

“Sebagai seorang pendidik sudah seharusnya kita memahami bagaimana mengatasi masalah peserta didik tanpa menerapkan hukuman fisik. Perundungan, penggunaan rokok, miras, dan Narkoba di kalangan remaja tak patut adanya. Oleh karena itu dalam kegiatan In House Training kali ini mari kita kuatkan pemahaman kita untuk mendampingi keseharian mereka di sekolah,” ujar Bu Ning Laila, pembawa acara dengan suara lantang.

Bapak Mulib, M.Pd, Kepala Sekolah SMPN 2 Kota Mojokerto, memberi sambutan.

“Kegiatan ini merupakan bagian dari program sekolah penggerak sebagai bentuk tindak lanjut dari hasil survei lingkungan belajar pada indikator iklim keamanan sekolah pada angka 75,84% (kategori baik). Namun ada sub indikator yang turun yaitu pada kesejahteraan psikologis turun 2,89%. Inilah salah satu tolak ukur kita dalam memperbaiki iklim lingkungan sekolah.”

Kemudian, dilanjutkan pembacaan doa yang dipimpin Bapak Mahmudin, S.Pd. agar acara berjalan lancar. Narasumber yang dihadirkan untuk IHT kali ini adalah Ibu Hannia Perwitasari, M.Psi, Psikolog yang memang mempunyai pengalaman panjang dalam menangani permasalahan anak-anak dan mendalami bidang Psikologi Pendidikan dan Perkembangan Anak.

“Beberapa faktor penyebab kenakalan remaja dari luar antara lain: kondisi keluarga yang disfungsi, lingkungan pergaulan yang negatif, pengaruh media massa, kecemburuan sosial
dari dalam diri, perkembangan kepribadian yang terganggu, memiliki pribadi yang mudah terpengaruh, serta adanya kecenderungan kemampuan kognitif yang rendah,” jelas Bu Haniah.

Bu Haniah sangat piawai dan menyenangkan dalam menjelaskan materi psikologi remaja. Tak sedikit peserta bertanya pada beliau.

“Disiplin positif yang dibentuk dalam kelas adalah hal-hal positif. Namun, bagaimana cara jitu sehingga dapat memunculkan kesadaran diri peserta didik menjadi kesadaran diri pada jiwanya?” tanya Pak Mahmudin.

Bu Hania menjawab,  “Sasaran awal adalah bagian otak yang menerjemahkan pengetahuan. Ketika anak bisa tahu dampak dari adanya aturan maka anak lebih dapat memahami manfaat dari aturan tersebut.”

Lalu, Bapak Supriyo, guru Matematika, bertanya “Ada beberapa peserta didik yang selalu berkata kotor? Saya sudah memberikan konsekuensi untuk belajar di luar kelas. Apakah yang saya lakukan sudah tepat?”

“Kita cenderung berperilaku seperti lingkungan sekitar. Sedangkan lingkungan bagi peserta didik tidak hanya di sekolah, tapi juga di rumah. Jika memang ada konsekuensi maka seharusnya konsekuensi tersebut diberlakukan pada semua warga kelas tanpa terkecuali. Ajak mereka, keterlibatan secara dua arah dapat memberi peran bagi mereka di situ,” simpul Bu Hania.

Di akhir acara beliau pun memberikan motivasi pada para peserta IHT, “Kontrol emosi kita sebelum menghadapi anak-anak. Jangan lupa ucapkan terima kasih pada diri kita sendiri. Yakinlah pada usaha yang sudah kita lakukan”. (Fifin Misfasiroh)

Ibu Hania menjelaskan paparan ciri khas remaja.
Bapak Mulib, Kepala Sekolah memberi sambutan.
Pak Mahmudin bertanya pada narasumber.
Pak Supriyo bertanya pada narasumber.
Foto bersama narasumber

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *